Kemarin, Sabtu jam 2 dini hari ponsel saya berdering. Tumben ni orang telepon pagi-pagi buta begini, sepertinya ada apa-apa di seberang sana. Ternyata tak salah, berita yang mengejutkan sampai ke telinga saya, tentang duka. Seseorang telah pergi, berangkat lebih dulu menemui Sang Pencipta. Meninggalkan orang-orang tercinta, meninggalkan cerita dan kenangan untuk pribadi-pribadi yang mengenalnya juga menyisakan penyesalan bagi mereka yang belum melakukan sesuatu yang berarti saat kesempatan masih ada.
Mendung di teriknya mentari mengantarnya pergi, ramai mengiring langkah dalam sunyi.
Malam belum meninggi, belumlah lama usai mereka yang ramai mengaji. Mendadak ada sedikit kesibukan yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi hari ini. Oh, rupanya ada yang mau melahirkan, si jabang bayi sudah memberikan tanda kalau dia sudah siap lahir ke dunia. Mungkin dia bisa merasakan suasana duka di tengah keluarga dan ingin segera menghibur mereka dengan tangis pertamanya.
Hampir subuh, tangisnya singkirkan selimut kecemasan, diiringi airmata bahagia dan bait kalimat syukur yang dipanjatkan padaNya. Adzan pun berkumandang di mana-mana, repetisi suara bapaknya, yang diperdengarkan di awal kehadirannya.
Dan pucuk pepohonan pun tak mampu sembunyikan senyum mentari yang menggeliat meninggi.
Mengingat apa yang baru saja terjadi, saya berfikir betapa unik kejadian yang baru saja saya saksikan. Kematian dan kelahiran, kesedihan dan kebahagiaan, rahasia-rahasia hidup yang cuma Dia lah yang mengetahui kapan terjadinya.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS. 67:1-2)
Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. (QS. 40:68)
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. 21:23)